Wednesday, December 20, 2006

Perhatian terhadap Orang Lain

Mengapa sering dikabarkan bahwa beberapa siswa-siswi Jepang memilih bunuh diri? Di Makassar, saya sering dengar bahwa orang Jepang siap bunuh diri karena rasa siri' yang sangat kuat, atau karena rasa pertanggungjawabnya terlalu kuat. Mengapa orang Indonesia jarang memilih bunuh diri? Jawaban yang sering dengar adalah karena orang Indonesia percaya dan manaati agama masing-masing. Apakah pemahaman seperti ini benar atau adakah alasan yang lain?

Menurut saya, mereka bunuh diri karena mereka yakin sama sekali tidak diperhatikan oleh siapa pun. Teman-teman atau guru di sekolah tidak memperhatikan. Di rumah, orang tua dan saudaranya pun tidak begitu memperhatikan. Dia merasa sendirian dan tidak ada seorang pun yang berpihak sama dia. Dia mencari ruang hidup di dalam dunia virtual dengan internet. Tetapi pemakaian internet adalah komunikasi satu arah. Dia tidak bisa memuaskan diri dan gagal mendapat perhatian dari dunia virtual juga. Untuk apa saya hidup? Manusia tidak bisa hidup tanpa pergaulan dengan manusia lain.

Di Makassar, saya sering ditanyai oleh orang yang tak kenal dengan sebut "Dari mana?", "Mau kemana?", "Mengapa tinggal di Makassar?", dan lain-lainnya. Di dalam hati saya pikir ini bukan urusan anda. Anda bukan kenalan saya. Mengapa saya harus jawab pertanyaan dari anda-anda yang tidak kenal? Ternyata mereka memberi perhatian kepada saya.

Dalam kehidupan sehari-hari di Makassar, saya merasa penuh perhatian dari berbagai kalangan. Selain itu, di sini ada berbagai macam manusia yang hidup masing-masing yang jauh lebih bervariasi dibandingkan Jepang. Perhatian tentu dikaitkan dengan imajinasi. Upaya memperhatikan sesuatu adalah upaya meningkatkan daya imajinasi.

Namun, perhatian atau daya imajinasi oleh instansi terhadap masyarakat di Indonesia kelihatannya sangat rendah. Jika aparat pemerintah memakai istilah "masyarakat", mereka hampir lupa bahwa mereka juga sesama masyarakat. Sebetulnya mewujudnya good governance tidak terlalu susah jika aparat pemerintah selalu berpikir sebagai seorang masyarakat biasa. Perlu tingkatkan daya imajinasi aparat pemerintah terhadap masyarakat.

Di Indoensia, walaupun masyarakat tidak diperhatikan oleh pemerintah, masyarakat tidak mungkin "bunuh diri" karena mereka mempunyai dunia tersendiri. Di dalam suatu komunitas, mereka selalu memperhatikan satu sama lain. Jika komunitas tersebut hilang dan hancur, bagaimana masyarakat akan "bunuh diri"? Mungkin tidak juga dan mereka paling tidak mencari kambing hitam dan beramuk.

Siswa-siswi yang memilih bunuh diri di Jepang merasa tidak diperhatikan oleh siapa pun. Keluarga, komunitas, teman-teman sekolah tidak lagi tempat bergaulan antara manusia dari segi kacamata mereka. Seandainya mereka berada di Indonesia, apakah tetap memilih bunuh diri?

Dunia komunitas Indonesia, menurut saya, masih sehat dan penuh perhatian (atau pertanyaan?) oleh orang-orang yang tak kenal.


Daeng KM

No comments: