Monday, December 31, 2007

Mulailah Menciptakan Sejarahnya

Pada awal Desember lalu, saya sempat memberikan kuliah khusus di Universitas Cenderawasih, Jayapura.

Dalam diskusi dengan para peserta, muncul suatu tanggapan, yaitu: sejarah kami telah dihantamkan oleh orang luar maka kami tidak mempunyai sejarah apa-apa. Menurutnya, inilah alasan mengapa mereka ingin menuntut orang luar memberikan kompensasi kepada mereka. Bisa saja mengancam dengan pakai istilah "merdeka".

Saya membalas kepada mereka dengan mengatakan bahwa apakah sejarah anda benar-benar tidak ada lagi? Dengan permintaan kompensasi dan mengancam dengan istilah khusus, anda lupa melihat dirinya sendiri. Anda itu siapa? Apakah benar anda tidak memiliki apa-apa? Di mana jati diri anda sebagai orang Papua?

Siapa menciptakan sejarah? Anda! Jika merasa sejarahnya dihantamkan oleh orang luar, mulai saja sekarang untuk memciptakan sejarah anda sehari demi sehari. Sesudah berlanjut ini lima tahun, sepuluh tahun, anda sudah berhasil menciptakan sejarah anda sendiri.

Dari rasa korban, kita tidak bisa mulai apa-apa. Mungkin lebih enak jika terus menerus posisikan diri sebagai korban karena ini menjadi alasan anda tidak perlu melakukan apa-apa. Mulai saja sekarang dari anda sendiri untuk berubah sesuatu yang akan lebih baik daripada saat ini. 

Saya menyampaikan demikian kepada para peserta kuliah saya. Step by step. Mereka juga pasti akan maju ke depan.


Tuesday, December 11, 2007

Upacara Andingingin di Kajang

Bersama seorang direktur film dokumenter dari Jepang dan rekan saya Pak Ridwan, saya ke Kajang Dalam, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, pada awal bulan Desember dan mendengar cerita banyak tentang Upacara Andingingin.

Upaca Andingingin akan dilaksanakan di hutan keramat tiga hari sesudah Hari Lebaran Haji, yaitu 23 Desember 2007 nanti. Upacara ini ada setiap tahun.

Menurut Ammatowa, sang maha terhormat di masyarakat Kajang, upacara ini bertujuan untuk mendinginkan dunia dan bumi yang menjadi panas oleh karena pertikaian, konflik, perang, stres dan berbagai hal. Sesudah Hari Lebaran Haji, hari pertama, suatu sumur di hutan keramat dibersihkan karena air sumur itu akan digunakan dalam upacaranya. Hari kedua, atas petunjuk dan pengawasan Ammatowa dan para petinggi adat, suatu tempat panggung bambu yang dibuat.

Hari ketiga, mulai dari pagi, masyarakat Kajang Dalam datang ke tempat upacara dengan membawa songkolo yang dibuat masing-masing. Lalu, Ammatowa melempar air suci dari sumur untuk masyarakat untuk mendinginkan dunia dan bumi. Sesudah itu, Ammatowa kasih tanda titik di dahi kepada masing-masing para hadirin. Lalu, berdoa dan makan bersama.

Upacara Andingingin ini merupakan salah satu upacara yang paling suci dalam berbagai upacara di Kajang Dalam atai disebut Kawasan, maka secara ketat dilarang ambil foto dan membuat rekaman sebagai simbol modern.

Upacara ini dilanjutkan terus-menurus sejak dulu-dulu di Kajang Dalam, mungkin tanpa mengetahui pembahasan hangat oleh pejabat-pejabat internasional tingkat tinggi, misalnya COP-13 di Bali. Memang, dunia dan bumi ini perlu didinginkan.


Daeng KM

Thursday, November 08, 2007

Pameran Karya Senirupa SMPN 24 Makassar

Ada informasi tentang pameran yang unik dari rekan-rekan saya, seperti yang berikut:

-----

Pameran Karya SenirupaPelajar Kelas II SMPN 24 Makassar - Firman Djamil

A. Latar Pemikiran

Warna terbentuk dari vigmen-vigmen alam yang ditransformasi oleh cahaya.Dari vigmen ini, dengan adaptasi tehnologi pada material fisikal,menghasilkan tiruan-tiruan cahaya berwarna-warni pada berbagai media,seperti pada tekstil dan benda-benda lainnya. Penampakan warna inimenimbulkan cita rasa estetik yang menakjubkan. Dari penampakanwarna-warni cahaya ini pula menginspirasi para pelajar SMP Negeri 24Makassar menciptakan karya senirupa.

Dalam menciptakan karya mereka, di bawah bimbingan perupa Firman Djamil,para siswa menggunakan kain perca; kain sisa yang mereka peroleh daribeberapa penjahit di sekitar rumah mereka.

Apa yang dilakukan siswa SMP Negeri 24 Makassar perlu menjadi contohkecil dari tindakan yang perlu dilakukan para warga kota dalammenanggapi masalah lingkungan hidupnya. Apalagi dalam fakta, berdasarkanKompas edisi 30 Juni 2007, masalah sampah di Makassar bukanlah masalahyang kecil. Terhitung tidak kurang 3.582 meter kubik atau 700 ton sampahdihasilkan oleh 1,3 juta jiwa penduduk kota ini dalam sehari.

Karenanya, kami dari penyelenggara, tertarik untuk memfasilitasi pameranini.Visi yang dikembangkan dan dihasilkan oleh siswi-siswa ini adalahkarya seni yang berwawasan lingkungan hidup, seperti halnya yang selamaini digeluti oleh Firman Djamil.

Apa yang dilakukan oleh para pelajar tersebut, mungkin saja, tidakberarti dalam mengurangi kuantitas sampah yang menjadi masalah besarbagi Makassar. Tapi dalam kualitas, tindakan dan karya mereka memilikiproyeksi dan cita-cita yang besar dan luhur; namun tetap berangkat darikerja dan kegiatan yang kecil. Kami pikir inilah salah satu caramengenalkan kepada pelajar tentang lingkungan hidup; sebagai bagian dariperbaikan kualitas lingkungan hidup di masa mendatang.

B. Jenis Kegiatan

Pameran Karya Lukisan Perca

C. Tema

True Color (Warna Asli)

D. Jumlah Karya

70 Karya Lukis Kain Perca & 20 Lukisan Drawing (Digital Printing) karya Firman Djamil

E. Peserta

- Siswi-siswa Kelas II, SMP Negeri 24 Makassar
- Firman Djamil

F. Tujuan

1. Memotivasi Kegairahan Belajar Senirupa Siswi-siswa
2. Inovasi Kegiatan Pembelajaran Seni bagi siswi-siswa
3. Pendidikan Lingkungan Hidup bagi Siswi-siswa
4. Memberi Ruang Apresiasi dan Mengenalkan ke Publik Kegiatan Senirupa Siswi-siswa.

G. Waktu

09.00 wita 17-21 November 2007

H. Tempat

Ruang Pameran Komunitas Ininnawa (Lantai II)
Jl Perintis Kemerdekaan Km-9 No76 Makassar 90245

I. Tim Penyelenggara

Komunitas Ininnawa (www.ininnawa.org)
Panyingkul! (www.panyingkul.com)
Rumah Kaum Muda
Tanahindie Project
Tendakata
Sombaopu Studio & Gallery
Studio 24 SMP Negeri 24 Makassar

*Contact Person
Anwar J Rachman 0411-2357627; 081-342-398-338
Ni Nyoman Anna M 08164383583

Sunday, October 21, 2007

Poors in Japan, Richs in Indonesia

Ini bukan cerita tentang sumber daya alam.

Percaya atau tidak, di Jepang ada orang Jepang yang meninggal dunia karena kelaparan. Menurut data tahun 2003, jumlah orang yang mati kelaparan adalah 93 orang, terdiri dari laki-laki 73 orang dan perempuan 20 orang. Usia mereka sekitar 45-69 tahun.

Umumnya, sesudah dipecat dari tempat kerja, mereka sulit mencari kerja dan terpaksa pinjam uang dari rentenir dengan bunga tinggi. Tentu susah mengembalikan utang jika tetap menganggur. Debt collector sering datang dan mengancam pada peminjam uang. Akhirnya... bisa saja bunuh diri.

Di Jepang, pemerintah mempunyai sistem perlindungan kehidupan sehari-hari untuk yang tidak mampu (sistem livelihood protection). Namun, tujuan sistem ini merupakan kemandirian penggangur, maka pemerintah meminta agar penggangur berusaha mencari kerja secepat mungkin. Memang banyak "penggangur" memanfaatkan dan menyalahgunakan sistem ini untuk memanjakan diri. Maka, pemohon sistem ini selalu dicuriga oleh aparat pemerintah. Sebagian pemohon sering dimarah dan terima kata-kata kotor dari aparat pemerintah. Akhirnya, pemohon memaksakan diri menyatakan "tidak perlu livelihood protection (tidak perlu terima bantuan uang hidup)". Ucapan ini dianggap oleh aparat bahwa pemohon ini sudah siap mandiri. Akhirnya, pemohon mati lapar.

"Saya masih hidup selama 10 hari tanpa makan apa-apa. Tapi ingin makan onigiri (rice ball)". Ini adalah kata-kata terakhir sebelum seorang penggangur meninggal dunia karena kelaparan. Bantuan uang hidup dari sistem livelihood protection dari pemerintah untuk dia dihentikan tiga hari sebelum meninggal dunia.

Sistem kesejahteraan di Jepang dianggap mapan dan menjadi contoh untuk negara lain. Tetapi, pemaksaan kemandirian yang cepat mendorong kesulitan orang lemah yang tidak punya uang dan terpaksa tidak bisa makan.

Memang ini bukan fenomena umum di Jepang dan secara rata-rata Jepang dianggap sebagai negara kaya. Namun, ini realita: di Jepang ada orang yang meninggal dunia karena kelaparan.

-----

Dalam liburan lebaran ini, saya melihat banyak rombongan orang Indonesia datang ke Jepang untuk jalan-jalan pariwisata. Mereka menikmati Universal Studio Japan, Disney Land, and Disney Sea. Ongkos perjalanan ini dari Indonesia ditaksirkan sekitar 2000 USD per orang.

Banyak sekali anak-anak. Mereka merasa wajar perjalanan mewah ini dan sulit peduli terhadap masalah ketimpangan pendapatan antara yang mampu dan yang tidak mampu, yang makin lebar, di Indonesia. Tentu, menurut saya, mereka-mereka yang enjoy di Jepang termasuk kalangan kaya di Indonesia.

-----

Fenomena kemiskinan beberapa orang Jepang dan fenomena orang kaya Indonesia. Betul, ini bukan fenomena umum. Tetapi ini fenomena nyata. Dekotomi atau pandangan umum, seperti Jepang kaya dan Indonesia miskin, belum tentu berguna untuk memecahkan masalah. Harus mulai dari berbagai realita dan fakta.

Friday, October 12, 2007

Selamat Idul Fitri 1428 H

Selamat Hari Raya Idul Fitri
1 Syawal 1428 H


Mohon Maaf Lahir dan Batin

Daeng KM



Friday, October 05, 2007

Makan Bersama di SD dan "Shokuiku"

Di Jepang, kami selalu makan siang bersama (disebut "Kyuushoku") pada waktu SD setiap hari. Makanannya disiapkan oleh beberapa aparat pemasak yang memunuhi syarat standar gizi untuk anak sekolah. Dengan "Kyuushoku" ini, semua anaknya makan makanan yang sama, baik anak orang kaya maupun anak orang yang tak mampu secara ekonomis. Gizinya telah diperhitungkan dengan kandungan vitamin, protein, dan lain-lainnya. "Kyuushoku" ini sangat membantu untuk membuat anak-anak yang sehat dan bertumbuh.

Dengan "Kyuushoku" ini, orang tua anak dan anaknya sendiri belajar tentang gizi dan makanan sehat. Maka, "Kyuushoku" sendiri mempunyai arti pendidikan gizi dan makanan sehat. Saat ini, istilah "Shokuiku" menjadi sangat populer di Jepang. "Shokuiku" adalah pendidikan tentang makanan, artinya belajar tentang makanan sehat dan aman yang menciptakan kehidupan sehat untuk masa depan.

Ada artikel tentang "Kyuushoku" dan "Shokuiku" yang berikut:

Menumbuhkan Pola Makan Sehat Sejak Kecil

Wednesday, October 03, 2007

My Photo Page (New)

Because Yahoo! Photo page is closed, My Photo site moves to Flickr as follows:

My Photo Page (New)

Please enjoy my photos on Sulawesi and East Indonesia and welcome your comments in Flickr site.


Daeng KM

Thursday, June 28, 2007

Air Banjir tetapi Tidak Ada Air


Gara-gara pekerjaan pelebaran jalan di depan rumah saya pada tanggal 26 Juni 2007.

Jalan Perintis Kemerdekaan akan diperlebar dari 4 jalur ke 8 jalur bersama busway seperti yang ada di Jakarta. Pada malam hari sekitar jam 23:00, tanggal 26 Juni 2007, air PAM tiba-tiba tak mengalir lagi. B elakangan kami tahu bahwa pipa air sambungan antara rumah dan pipa air PAM patah dan rusak karena kerja malam pelebaran jalan tersebut. Pipa air yang patah dibiarkan begitu saja. Akibatnya, kami terpaksa menerima kehidupan tanpa air.

Indonesia memang luar biasa. Gali dulu, baru ketahuan ada pipa air. Mengapa tidak pikir dulu ada pipa air di tempat ini. Apalagi, kami belum menerima penjelasan tentang peristiwa ini dari pihak pekerja pelebaran jalan. Pihak pekerja tidak muncul lagi ke sekitar rumah saya. Seolah-olah lari tanpa pertanggungjawaban. Begitu hebat cara kerja orang Indonesia!

Bukan pipa airnya patah saja. Dalam pekerjaannya, saluran buangan air lama yang ada di pinggir jalan raya ditutup tanpa pembuatan saluran buangan air yang baru. Kebetulan, kemarin hujannya begitu besar. Akibatnya, air hujan yang mestinya dialirkan ke saluran buangan air tidak keluar dari halaman rumah dan kami mengalami banjir air. Karena tidak ada lagi saluran buangan air yang ditutupi oleh pekerja pelebaran jalan.

Air banjir tetapi tidak ada air PAM di rumah. Semuanya gala-gala ada pekerjaan pelebaran jalan yang sangat amateur dan tidak bertanggungjawab.

Namun, saya menyadari dengan dengar bahwa warga sekitar kami mengalami nasib yang hampir sama. Pipa air mereka juga dirusak tanpa penjelasan dan minta maaf dari pihak pekerja pelebaran jalan. Ada juga warga yang terpaksa beli gerigen air untuk keperluan setiap hari. Mereka belum tahu kepada siapa dan bagaimana caranya untuk mengadu nasibnya.


Saya heran juga mengapa mereka diam dan menerima nasib buruk dengan begitu saja. Saya memutuskan mencoba teriak kepada yang bersangkutan. Artinya, bikin surat ditujukan kepada Pimpro Pelebaran Jalan di Dinas Praswil Prop Sulawesi Selatan. Kontak dengan kantor lurah dan kantor camat meskipun saya tidak mengaharapkan banya dari mereka tetapi ingin melaporkan sebagai warga yang baik. Kontak dengan kantor PAM. Tanya kepada teman-teman tentang cara penyelesaian masalah dengan baik.

Pada tanggal 28 Juni 2007, saya menerima informasi bahwa Pimpro pelebaran jalan memerintah segera gali kembali dan akan kirim konsultan untuk meninjau situasi. Seolah-olah dia peduli terhadap keadaan kami yang mengalami. Namun, sampai malam harinya, tindak lanjut yang diperintahkan oleh Pimpro sama sekali tidak dilaksanakan.

Yang datang adalah petugas lapangan PAM. Saya langsung mampir ke kantor PAM dan minta dia datang. Dia janji rehabilitasi pipa air hari ini dan sorenya dia berhasil sambung kembali pipa air ke rumah saya dengan pipa PAM. Karena ingin secepat mungkin diselesaikan, saya bayar ongkosnya, padahal mestinya perusak pipa air, maksudnya pekerja pelebaran jalan, yang harus menanggung biayanya!
Air banjir di halaman rumah tidak surut maka saya memutuskan beli pompa air listrik. Dengan pompa itu, airnya dapat dialirkan ke luar rumah biarpun tidak ada saluran buangan air di depan rumah saya. Apa boleh buat.

Ini contoh yang kecil mungkin. Kesalahan baik sengaja atau tidak sengaja tidak dikemukakan karena warga hanya diam. Kali ini saya juga berada di posisi warga seperti itu tetapi tidak mau diam dengan peristiwa yang mestinya tidak boleh terjadi. Jangan manjakan kerja-kerja amateur seperti pekerja pelebaran jalan ini. Seandainya peristiwa serupa ini terjadi di rumah pejabat, apakah perlakuannya sama dengan warga di sini? Ayo, jawablah petinggi-petinggi Indonesia. Demokrasi mestinya tidak kenal perbedaan antara kelas atas dan kelas bawah.
Meskipun demikian, apakah saya harus menyesuaikan diri dan lebih baik diam saja?

Dalam kesempatan kali ini, saya merasa juga banyak orang rupanya sangat peduli terhadap kami tetapi sekaligus juga jadi bahan cerita-cerita lucu dan ketawa seolah-olah hanya sekedar tontonan. Saya harus lebih pintar mana orang yang benar-benar peduli dan mana yang hanya pura-pura.

Tuesday, April 10, 2007

Severn Suzuki's Address di KTT Bumi

Ini adalah ceramah seorang anak berusia 12 tahun di KTT Bumi tahun 1992 di Rio Centro, Brazil. Ceramah ini disambut luar biasa oleh audience dengan standing ovation. Kita harus mendengar ceramah ini dan harus melakukan sesuatu dengan aksi nyata sebagai orang dewasa yang bertanggungjawab untuk masa depan generasi penerusnya.

Gambar Video

-----


Severn Suzuki's Address to the Plenary Session,
Earth Summit, Rio Centro, Brazil 1992


Hello, I'm Severn Suzuki speaking for E.C.O. - The Environmental Children's organisation.

We are a group of twelve and thirteen-year-olds from Canada trying to make a difference:
Vanessa Suttie, Morgan Geisler, Michelle Quigg and me.

We raised all the money ourselves to come six thousand miles to tell you adults you must change your ways. Coming here today, I have no hidden agenda. I am fighting for my future.

Losing my future is not like losing an election or a few points on the stock market. I am here to speak for all generations to come.

I am here to speak on behalf of the starving children around the world whose cries go unheard.

I am here to speak for the countless animals dying across this planet because they have nowhere left to go. We cannot afford to be not heard.

I am afraid to go out in the sun now because of the holes in the ozone. I am afraid to breathe the air because I don't know what chemicals are in it.

I used to go fishing in Vancouver with my dad until just a few years ago we found the fish full of cancers. And now we hear about animals and plants going exinct every day - vanishing forever.

In my life, I have dreamt of seeing the great herds of wild animals, jungles and rainforests full of birds and butterfilies, but now I wonder if they will even exist for my children to see.

Did you have to worry about these little things when you were my age?

All this is happening before our eyes and yet we act as if we have all the time we want and all the solutions.

I'm only a child and I don't have all the solutions, but I want you to realise, neither do you!

You don't know how to fix the holes in our ozone layer.

You don't know how to bring salmon back up a dead stream.

You don't know how to bring back an animal now extinct.

And you can't bring back forests that once grew where there is now desert.

If you don't know how to fix it, please stop breaking it!

Here, you may be delegates of your governments, business people, organisers, reporters or poiticians - but really you are mothers and fathers, brothers and sister, aunts and uncles - and all of you are somebody's child.

I'm only a child yet I know we are all part of a family, five billion strong, in fact, 30 million species strong and we all share the same air, water and soil - borders and governments will never change that.

I'm only a child yet I know we are all in this together and should act as one single world towards one single goal.

In my anger, I am not blind, and in my fear, I am not afraid to tell the world how I feel.

In my country, we make so much waste, we buy and throw away, buy and htrow away, and yet northern countries will not share with the needy. Even when we have more than enough, we are afraid to lose some of our wealth, afraid to share.

In Canada, we live the privileged life, with plenty of food, water and shelter - we have watches, bicycles, computers and television sets.

Two days ago here in Brazil, we were shocked when we spent some time with some children living on the streets.

And this is what one child told us: "I wish I was rich and if I were, I would give all the street children food, clothes, medicine, shelter and love and affection."

If a child on the street who has nothing, is willing to share, why are we who have everyting still so greedy?

I can't stop thinking that these children are my age, that it makes a tremendous difference where you are born, that I could be one of those children living in the Favellas of Rio; I could be a child starving in Somalia; a victim of war in the Middle East or a beggar in India.

I'm only a child yet I know if all the money spent on war was spent on ending poverty and finding environmental answers, what a wonderful place this earth would be!

At school, even in kindergarten, you teach us to behave in the world. You teach us:

- not to fight with others,
- to work things out,
- to respect others,
- to clean up our mess,
- not to hurt other creatures
- to share - not be greedy

Then why do you go out and do the things you tell us not to do?

Do not forget why you're attending these conferences, who you're doing this for - we are your own children.

You are deciding what kind of world we will grow up in. Parents should be able to comfort their children by saying "everyting's going to be alright', "we're doing the best we can" and "it's not the end of the world".

But I don't think you can say that to us anymore. Are we even on your list of priorities? My father always says "You are what you do, not what you say."

Well, what you do makes me cry at night. you grown ups say you love us. I challenge you, please make your actions reflect your words. Thank you for listening.

Friday, March 23, 2007

Salam dari Visakhapatnam

Saya sedang berada di kota Visakhapatnam (atau singkatnya Vizag), Andra Pradesh State di India sejak tanggal 18 Maret sampai 24 Maret besok.

Visakhapatnam berlokasi di pinggir pantai dan Pangkalan Angkatan Laut India Bagian Timur berada di kota ini. Penduduknya sekitar 1,3 juta orang dan berdasar dari industri berat seperti industri besi baja (Visakhapatnam Steel Plant), perkapalan (Hindustan Shipyard), petrochemical (Hindustan Petroleum Corporation Limited), atau industri minuman susu (Visakha Dairy).

Ibukota Andra Pradesh State bukan Visakhapatnam melainkan Hiderabad. Bahasa utama di sini adalah Bahasa Telugu (maaf, saya baru tahu kali ini) yang digunakan sekitar 70 juta orang di India. Huruf Bahasa Telugu adalah seperti yang berikut:




Sebetulnya, saya baru mulai bisa membedakan antara huruf Hindi, huruf Tamil dan huruf Telugu. Tentu tidak bisa baca. Di India, setiap State mempunyai Bahasa dan huruf masing-masing. Maka, untuk komunikasi antara masyarakat, tentu sangat penting Bahasa Inggris. Saya melihat banya sekali DVD Film India berbahasa Telugu yang bervariasi, selain film berbahasa Hindi dan yang berbahasa Tamil.

Visakhapatnam dianggap kota industri dan jarang diakui sebagai tujuan wisata. Namun, bersama rekan saya orang Jepang yang bertugas di sini, saya mencoba jalan-jalan beberapa obyek wisata lokal. Ternyata, obyek wisata kelihatannya disenangi oleh masyarakat lokal. Namun ada DVD perkenalan obyek wisata Visakhapatnam yang cukup lengkap (namun kebanyakan kuil-kuil Hindu...).

Pasar Poorna di kota lama Visakhapatnam. Bumbu-bumbu warna-warni tersedia karena untuk Hari Raya Ugadi (19 Maret, kayaknya seperti Nyepi di Indonesia). Jumlah penggunjung ke pasar pada hari itu (19 Maret), menurutnya, agak sedikit dibandingkan hari-hari biasa.

Di kota baru Visakhapatnam, terlihat pantai indah panjang yang menghadapi Teluk Bengal. Ada juga museum Submarine yang pernah dipakai waktu Perang India-Pakistan. Di pingir pantai, banyak bangunan apartemen dibangun selama 4-5 tahun ini bersama patung-patung pahlawan yang berasal dari Andra Pradesh ke arah laut. Karena itu, harga tanah sekitar pinggir pantai naik terus.

Kesan saya, kota Visakhapatnam ini dibangun berdasar perencanaan tata ruang kota yang cukup memadai. Jalannya cukup luas, zonasi pemukiman dan pabrikan sangat jelas. Kota yang cukup indah dan luas dan nyaman. Memang, kota ini asalnya dari suatu desa nelayan. Tiba-tiba pangkaran Angkatan Laut ditempatkan, lalu industri terkait berlokasi, dan kotanya makin besar.

Menurut teman saya orang Jepang di Visakhapatnam, aparat pemerintah India bagian selatan, terutama aparat di Tamil Nadu dan Andra Pradesh, disiplinnya cukup tinggi. Mereka pasti masuk kantor pemerintah dan ada tugas sehari-hari. Sulit bsekali bikin appointment dengan pejabat pemerintah State-Statenya karena mereka sibuk. Memang birokrasi dimana-mana tidak efisien, namun pemerintah disini selalu dan pasti melakukan apa yang sudah dijanjikan meskipun makan waktu lama.

Di India, upaya pembangunan daerah dilakukan oleh mereka sendiri tanpa bantuan luar negeri. Mereka mengurus urusan rumah tangga sendiri dan tidak mau dicampuri oleh pihak luar termasuk Pemerintah India Pusat. Saya merasa ada suasana agak tensi atau tegang (dengan arti yang baik dan positif) dalam kota. Tidak too much relaxed seperti di Indonesia. Sistem kasta di India masih sangat ketat. Semua orang kayaknya sungguh-sungguh dan serius untuk hidup. Tidak begitu kaya sumber daya alam di India dibandingkan Indonesia. Itulah memunculkan suasana tidak terlalu tenang seperti ini di India.

Sunday, February 11, 2007

Banjar di Lombok

Pada tanggal 5-8 Februari lalu, saya jalan-jalan ke Lombok untuk menyaksikan Nyale. Dalam perjalanan ini, saya bertemu beberapa aktivis LSM di sana. Salah seorang akitivis, Bapak Moch. Yamin, menjelaskan kegiatannya revitalisasi Banjar di dusun-dusun di Lombok.

Banjar, tempat komunitas dusun, telah terkenal di Bali dan fungsinya tidak lenyap waktu Orde Baru pun. Di Lombok, Banjar dianggap sebagai tempat pesta perkawinan, pemakaman, dan sunatan. Kelompoknya Pak Yamin sedang berusaha menempatkan Banjar sebagai tempat pergaulan dan saling belajar antara anggota komunitas sekaligus pusat informasi untuk komunitas. Untuk meningkatkan akses informasi oleh masyarakat, Pak Yamin dkk mencoba menerapkan perpustakaan kecil dan fasilitas internet.

Berikut ini adalah artikel Bali Post pada 24 Januari 2004 mengenai Banjar di Lombok.

==========

Banjar di Lombok ---Tak Cuma Untuk ''Mate'' dan ''Merariq''

Banjar di Lombok sudah mucul sejak ratusan tahun yang lalu. Namun, ketika UU No.5/1974 dan UU No.5/1979 tentang Pemerintahan Desa diberlakukan, hampir seluruh kreativitas lokal yang mewarnai kebhinekaan ''dimatikan'' dan terlibas oleh uniformitas konsep desa ala Jakarta. Kini, seiring era keterbukaan, akar tradisional yang sarat spirit kebersamaan itu tumbuh lagi. Ternyata, fungsinya pun makin melebar tidak saja sebagai banjar merariq dan banjar mate. Ada fungsi-fungsi lain yang berkembang melalui aktivitas banjar.
---------------------

Dalam tradisi masyarakat Sasak, dikenal istilah repoq atau wilayah pemukiman terkecil yang terdiri atas beberapa keluarga yang terikat secara genealogis. Latar belakang terbentuknya repoq di antaranya karena dorongan keinginan seseorang untuk lebih mendekatkan diri dengan sarana produksi yang mereka miliki seperti sawah, ladang atau kebun. Lokasi repoq seringkali jauh dari pemukiman asal, bahkan cenderung terpencil. Namun, dalam kaitan hubungan sosial kemasyarakatan, penghuni repoq masih terikat dengan komunitas asal. Ketika jumlah keluarga yang menghuni wilayah repoq kian bertambah mencapai puluhan orang -- hingga terlalu besar untuk sebuah repoq. Inilah awal mula kelahiran yang oleh masyarakat Sasak disebut sebagai gubuk.

Dalam wilayah komunitas ini kemudian tersusun perangkat sosial yang menata norma, etika, keorganisasian dan kepemimpinan, yang memunculkan istilah krama gubuk -- sebuah pola kepemimpinan kolektif yang biasa dipilih secara demokratis. Dalam tataran gubuk inilah institusi sosial pedesaan masyarakat hidup dengan nama banjar.

Budayawan M.Yamin mengemukakan konsep banjar dalam komunitas Sasak merupakan bentuk persekutuan komunitas kecil dan terbatas yang di dalamnya berlangsung beberapa kegiatan sosial kemasyarakatan. "Sebagai sebuah persekutuan, maka sebuah banjar pada awalnya memiliki anggota yang keanggotaannya ditentukan berdasarkan semua warga yang ada dalam lingkup wilayah sebuah gubuk dan yang secara genealogis satu keturunan," papar Yamin. Kegiatan banjar dalam komunitas Sasak lebih mengarah pada aktivitas yang terkait dengan siklus kehidupan -- perkawinan dan kematian. "Fokus kegiatan banjar yang hanya terbatas seperti inilah yang melahirkan terminologi banjar merariq (banjar perkawinan) dan banjar mate (banjar kematian)," tukasnya.

Sebagai sebuah persekutuan, di dalam banjar terdapat hal menarik yang membuat setiap anggotanya secara spontan dan bersama-sama membangun solidaritas sosial dan kebersamaan. Masalah yang dihadapi seorang anggota, misalnya, menjadi masalah semua anggota banjar. Karena itulah, muncul kebersamaan lain, tidak hanya dalam penanganan masalah perkawinan dan kematian, melainkan meluas dalam bidang kesehatan, lingkungan hidup, kesejahteraan, gender dan pendidikan.

Pendidikan dan 'Bawaran''

Upaya mengintrodusir makna kebersamaan dalam menghadapi tantangan yang lebih bernilai investasi dan strategis menjadi wacara banjar di Lombok. Tidak sedikit kemudian banjar yang secara bersama-sama membangun kekuatan ekonomi untuk kelangsungan biaya pendidikan, dan membebaskan diri dari rentenir atau lintah darat. Kesadaran ini terefleksi dari usaha simpan pinjam yang dapat dimanfaatkan anggota untuk mengatasi kesulitan.

Pemusungan Bentek, Kecamatan Gangga, Lombok Barat, Kamardi, mengatakan di kawasan masyarakat adat Lombok Utara, upaya ke arah itu sudah lama dilakukan. Anggota banjar melakukan iuran dan memelihara ternak sapi. Hasilnya, menjadi beasiswa anak-anak untuk bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi, baik SMA maupun perguruan tinggi. "Dalam soal beasiswa ini, tidak dibatasi bagi anak yang cerdas, melainkan berorientasi bagi masyarakat banjar yang kurang mampu," kata Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara ini.

Ia mencontohkan langkah yang dilakukan Banjar Tekatan, Desa Jenggala. Dengan jumlah anggota banjar yang mencapai ratusan warga, hampir segala kesulitan warga bisa teratasi akibat adanya spirit kebersamaan. Karena itu, menurut Kamardi, banjar sebetulnya menjadi sebuah jawaban kebersamaan bagi warga masyarakat -- terlebih bagi warga pedesaan yang dibelit berbagai kesulitan. "Tanpa diminta, jika ada warga yang melakukan gawe tertentu, warga banjar sudah berdatangan dengan sendirinya," jelas Kamardi.

Di Bentek sendiri terdapat 17 banjar yang justru sangat berperan dalam membangun kesejahteraan bersama. Hal serupa pun dilakukan di Banjar Banjaransari, Gubuk Mujur, Desa Montongbetok, Kecamatan Montonggaging, Kabupaten Lombok Timur, dan Banjar Temolan, Gubuk Grumpung, Desa Sepit, Kecamatan Ketuak, Lombok Timur. Khususnya di Lombok Timur, kedua banjar itu belum dilengkapi balai banjar. Untuk berkumpul, kata Yamin, setiap warga menjadi tuan rumah secara bergiliran. Nilai positifnya justru warga yang tidak pernah atau jarang ke rumah tetangganya, setiap bulan bisa saling mengunjungi. Namun, tentu saja dengan adanya balai banjar lebih memungkinkan pergerakan banjar lebih meluas lagi.

Keberadaan banjar di Lombok ternyata membangun kebersamaan dalam beragam hal. Acap kali, misalnya, anak-anak dididik tentang nilai dasar kemanusiaan melalui bawaran atau mendongeng, nembang, mengaji hingga pemberdayaan orangtua seputar peningkatan wawasan masalah kesehatan. Ke depan, katanya, keberadaan banjar hendaklah lebih dikuatkan oleh partisipasi pemerintah dengan tidak mengabaikannya. "Pemerintah jangan lagi membangun istitusi baru untuk memberdayakan masyarakat, sebab banjar sudah bisa dimanfaatkan untuk segala kebutuhan yang menyentuh masyarakat akar rumput," ucap Yamin.

Ada beberapa hal positif yang bisa dipetik dari banjar, misalnya gerakan pemberdayaan masyarakat desa oleh pemerintah, LSM dan lembaga lainnya menjadi lebih efisien dan menyentuh kelompok akar rumput. Peran banjar pun terkait dengan fungsi kontrol perilaku pemimpin pada levelnya. Sebagai contoh, keputusan Banjar Temolan beberapa waktu lalu dalam melengserkan ketua RT di wilayahnya karena diketahui yang bersangkutan melakukan penyimpangan distribusi bantuan beras untuk rakyat miskin.

Selain itu, kata Yamin, banjar di Lombok berfungsi sebagai pelestari warisan budaya. Misalnya menjadi pengelola berbagai jenis kesenian tradisional seperti gendang beleq, rebana lima, nembang (membaca lontar), kepembayunan, dan lain-lain. Bahkan, karena fungsi pelestari budaya ini Banjar Banjaransari telah meraih penghargaan dari Gubernur NTB 17 Desember 2002 dalam kapasitasnya sebagai institusi pelestari seni budaya tradisional.

* riyanto rabbah

Sumber: http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2004/1/24/topik.html

Saturday, February 03, 2007

Film "Bankir Kaum Papa"

Ada info tentang pemutaran film tentang Muhammad Yunus, pendiri "Grammin Bank".

----------

Mengajak teman-teman untuk datang dalam pemutaran dandiskusi film:

Le Banguier Des Humbles (Bankir Kaum Papa), sebuahkarya Arham Amirul, berdurasi 52 menit, produksi tahun2000.

Tempat: Kafe Ininnawa, Jln Perintis Kemerdekaan Km 9 No 76, depan Gedung Mercedes Benz

Waktu : 3 Februari 2007, Pkl 19:00 PM

Sekilas tentang film: Film berdurasi 52 menit inibertutur tentang Muhammad Yunus, yang terkenal denganjulukan "bankir kaum papa". Ia mulai berjuangmemerangi kemiskinan saat bencana kelaparan melandaBangladesh pada 1974. Tahun 1976 ia mendirikan GrameenBank dan mengawali misinya dengan memberikan pinjamanUS$ 27 kepada beberapa penduduk desa untukmenyelamatkan mereka dari jeratan lintah darat. Selain sebagai seorang guru besar ekonomi, ia jugadipandang sebagai salah satu pengembang utama konsep"kredit mikro". Kredit diberikan kepada para pengusahayang terlalu miskin untuk memenuhi syarat meminjam dibank-bank tradisional. Para peminjam memanfaatkan danapinjaman itu untuk membeli alat usaha, memutus rantaiperantara, dan mentransformasi hidup mereka menjadimandiri. Tahun 2006 lalu, Muhammad Yunus diganjarhadiah Nobel Perdamaian, tepat 30 tahun setelahGrameen Bank ia dirikan. Dengan kameranya yang jeli dan tajam, Arham Amirulmengikuti aktifitas Yunus sampai ke pelosok Bangladeshdan merampungkan film dokumenter tersebut pada tahun2000.

Sekilas tentang sutradara: Arham Amirul adalahseorang Bangladesh berkebangsaan Prancis. Selainbekerja sebagai sutradara film dokumenter, Arham jugamenulis puisi dan tulisan-tulisan fiksi lainnya. Filmdokumenter mutakhirnya adalah L'Eau Du Diable (AirSetan) produksi tahun 2005, berkisah tentang salahsatu keracunan massal terbesar dalam sejarah manusiayang terjadi di Bengali Barat dan Bangladesh dimanaribuan orang menderita akibat mengkonsumsi air yangdiambil dari sumber yang mengandung arsenik.

For Your Information: Diskusi akan diadakan setelahpemutaran tanpa pembicara utama, tapi tetap dipanduoleh moderator.

Thursday, February 01, 2007

Pentingnya "Tempat": Rehabilitasi Komunitas Pasca Gempa di Yogya

Pada tanggal 27-29 Januari 2007, saya sempat datang ke Yogyakarta untuk melihat keadaan rehabilitasi komunitas pasca bencana. Kebetulan ada teman saya yang sedang memikirkan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk mengingat terus pengalaman bencana dan memperkecilkan beban traumanya. Awalnya kami meninjau ke Kab Kraten dan sekitarnya. Bangunan-bangunan pinggir jalan terlihat dibangun kembali, apalagi terlihat bangunan SD dan Puskesmas yang baru dan bagus yang dibantu oleh lembaga donatur. Namun, ada juga yang belum dibangun kembali.

Menurut teman saya, kalau dibandingkan empat bulan yang lalu yang dia datang terakhir daerah ini, rupanya ada banyak perbaikan. Salah satunya ada poster tentang cara membangun rumah tahan gempa secara rinci. Ada juga contoh rumah tahan gempa di dalam lingkungan kantor camat Gantiwarno.

Sedangkan, di pasar, menurut seorang pedagang, sama sekali tidak ada bantuan dari pemerintah. Saya melihat ada tenda yang disebut "bantuan dari Departemen Perdagangan", namun tidak terpakai.

Pada hari kedua, kami meninjau wilayah Kab Bantul dan kunjungi ke Kasongan yang terkenal sebagai pusat produksi gerabah. Secara umum, bangunan-bangunan telah mulai dibangun kembali dan pesanan gerabah juga mulai pulih. Namun, para wisatawan belum datang ke Kasongan.

Di suatu desa di Bantul, saya melihat ada tempelan di jendera rumah, disebut "Layak Pakai". Ini adalah hasil evaluasi yang dilakukan oleh UGM agar dapat dimanfaatkan untuk rehabilitasi rumah masing-masing. Namun demikian, karena ditempel "Layak Pakai", maka rumah tersebut tidak bisa mendapat bantuan dari pemerintah. Memang tidak jelas pertanggungjawaban evaluasi tersebut baik untuk UGM maupun untuk pemerintah. Upaya berasal dari baik hati tetapi belum tentu akibatnya jadi seperti yang diharapkan.

Sambil melihat puin-puin rumah yang sudah lama roboh, saya merasa pentingnya suatu "tempat" untuk terus ingat pengalaman bencana dan menceritrakan kepada generasi anak dan generasi cucu. Tempat tersebut boleh menjadi tempat yang masyarakat lari dan kumpul jika ada bencana untuk mengetahui apakah keluarga dan teman-temannya selamat atau tidak. Tempat ini boleh jadi semacam pekarangan yang ditanam bungga, sayur atau pohon yang bertumbuh agar masyarakat tetap memiliki suatu harapan masa depan dan mengecilkan rasa trauma yang masih berada di dalam hati. Atau, tempat ini boleh jadi tempat ngobrolan sehari-hari sambil minum kopi dan makan kue di dalam masyarakat. "Tempat" memberikan kesempatan komunikasi antara warga untuk membagi rasa dan pengalaman bencana yang begitu berdampak kepada kehidupan mereka.

Teman saya yang tinggal di Yogya ingin mewujudkan "tempat" seperti ini di komunitas. Ada yang bilang bahwa rasa gotong royong mulai hilang sesudah bantuan pemerintah masuk desa karena muncul kecemburuan antara warga yang dapat dan yang tidak dapat. Padahal, sesudah pas gempa, semua warga apa boleh buat saling membantu untuk mengatasi suasana segala susah. Apakah "tempat" ini dapat melestarikan kembali rasa komunitas sekaligus mengingatkan peristiwa bencana?

Thursday, January 25, 2007

Peluncuran “Ilmu Makassar”

Peluncuran “Ilmu Makassar”

Makassar adalah sebuah kota yang sangat menarik dan memiliki hal-hal aneh-aneh. Asal usul nama Makassar dari mana? Apa bedanya antara Makassar dan Gowa? Apakah Sultan Gowa dulu menyebut diri sebagai orang Makassar? Kapan makanan Coto Makassar muncul? Mengapa coto menggunakan daging sapi? Siapa yang membuat coto pertama kali? Mengapa orang Makassar memakai mi dan pi dalam percakapan? Mengapa angkutan kota Makassar disebut petepete? Berbagai pertanyaan tentang Makassar muncul terus-menerus. Pertanyaan tersebut belum terjawab secara lengkap.

Sering terdengar bahwa budaya tradisional mulai hilang. Cerita rakyat tidak dikenal lagi oleh anak-anak. Masyarakat lebih senang menonton film Barat dan tidak mau memperhatikan musik kecapi tradisional. Apa yang diceritakan oleh generasi tua dianggap kuno dan diabaikan oleh generasi muda. Akar kita makin lama makin hilang.

Arus globalisasi tidak muncul baru-baru ini. Sejak dulu masyarakat selalu berada di dalam berbagai arus perubahan. Tanpa akar dan jati diri yang mantap, masyarakat merasa tidak percaya diri dan lebih percaya pada apa yang datang dari luar. Ada juga masyarakat yang takut perubahan dan menutup diri.

Makassar kota semua warga. Ada orang yang baik, aneh, lucu dan yang berbeda-beda suku, agama, atau warga negaranya di dalam lingkungan bernama Makassar. Mengenai Makassar ini, sampai sejauh manakah kita memahami dan mengetahuinya? Jika seseorang menarik, anda pasti ingin tahu sebanyak-banyaknya tentang dia, bukan? Apakah anda suka Makassar? Dan mengapa?

Dalam proses pencarian jawaban pertanyaan-pertanyaan tentang Makassar di atas, kita pasti baru tahu atau ingat kembali tentang berbagai hal. Dalam proses ini, kita sedikit demi sedikit meningkatkan rasa percaya diri dan rasa kebanggaan sebagai warga Makassar. Dengan demikian, kita akan lebih siap menghadapi arus deras globalisasi sambil menyesuaikan perubahan dengan inisiatif kita sendiri tanpa menutup diri.

Acara ini sebuah upaya untuk memahami diri sendiri. Inilah “Ilmu Lokal”, dan disini disebut “Ilmu Makassar”. Dengan suasana santai dan sambil makan coto atau pallubasa, mari kita belajar bersama tentang komunitas kita yang bernama Makassar.

Sunday, January 21, 2007

Kehormatan kepada Alam dan Ussul

Siang ini saya ketemu seorang teman saya yang melakakukan berbagai kegiatan untuk melestarikan budaya lokal Mandar. Ceritanya menarik sekali, terutama mengenai kehormatan kepada alam oleh nelayan di Sulawesi. Mengapa? Karena perilakunya sangat mirip dengan perilaku orang Jepang yang mengelola sumber daya alam.

Di wilayah Mandar, ikan terbang atau tuin-tuin yang bertelor disebut Mara'dia, artinhya raja. Nelayan menganggap tuin-tuin sewaktu itu dianggap raja dan merasa seolah-olah bertemu dengan raja. Ini terlihat rasa syukur, terima kasih, dan kehormatan kepada tuin-tuin yang akan meberikan rejeki kepada para nelayan. Sebelum mulai menangkap tuin-tuin, ada upacara khusus untuk menghormatinya.

Di Jepang juga sangat mirip. Umumnya nelayan Jepang minta pamit kepada dewa laut untuk menangkap ikan dengan upacara khusus yang sederhana. Di sini juga terlihat kehormatan mereka terhadap sumber daya laut.

Pembuat kapal kayu di Mandar mempunyai keputusan yang dipercayai membawa keuntungan. Misalnya, kayu untuk kapal harus dibabat waktu bulan pernama, anging kencang, dan pada waktu pagi. Mengapa? Semuanya ada kaitan kepercayaan atau ussul dalam bahasa Mandar. Bulan pernama diartikan rezekinya penuh. Angin kencang dianggap terkait dengan kecepatan cepat kapal yang akan dihasilokan. Mengapa harus pagi? Karena matahari yang naik diartikan rezekinya naik juga. Mereka percaya ada keuntungan jika bertemu ibu hamil karena akan mendapat rezeki. Sedangkan, nelayan Mandar tidak pergi ke laut pada hari yang bertemu orang yang menangis, karena mereka menganggap ini hari yang tidak baik.

Ussul ini hampur sama dengan Engi (縁起 dengan huruf Kanji) di dalam bahasa Jepang. Meskipun tidak ada hubungan logis dan teoritik, orang Jepang suka mengaitkan hal-hal yang tertentu dengan keuntungan atau ketidakuntungan. Ada yang sama secara nasional, ada juga yang berbeda-beda di komunitas lokal masing-masing. Misalnya, orang Jepang makan Katsu (makanan daging goreng tepung) sebelum pertandingan atau ujian masuk karena Katsu di dalam bahasa Jepang berarti menang.

Ilmu pengetahuan modern berkembang untuk mengatasi dan mengelola masalah sumber daya alam dan berbagai fenomena yang sulit diperjelaskan secara logis. Namun, masyarakat yang menhadapi alam sehari-hari sudah merasa dekat dengan sumber daya alam. Ketakutan dan kehormatan terhadap alam terlihat oleh mereka dan itu wajar-wajar saja. Ilmu pengetahuan modern tidak memecahkan masalah kompeleks tetapi menciptakan kesombongan manusia terhadap alam.

Apakah cerita nelayan Mandar dan ussul hanya menjadi bahan ketawa dan harus dibuang saja? Justru kita sebaiknya belajar bukan apakah isinya logis atau tidak, tetapi melainkan bagaimana perilaku dan kemampuan komunikasi mereka terhadap alam yang tidak bisa dikelola seratus persen oleh manusia.

Saya merasa menjadi sangat dekat dengan dunia spiritual orang Mandar seperti diatas.

Monday, January 15, 2007

Peluncuran Ilmu Makassar (26-Jan-2007)

- Kapan coto Makassar muncul dan berapa banyak warung coto di Makassar?
- Ada berapa jenis kue-kue Makassar?
- Nama Pete-Pete berasal dari mana?

Banyak pertanyaan yang belum terjawab tentang Makassar ...
Mari kita belajar bersama tentang Makassar !


Waktu: 26 Januari 2007, pukul 20.00 Wita
Tempat: Cafe Ininnawa (Depan Mercedes Bentz), Jl. Perintis Kemerdekaan Km.9 No.76, Tamalanrea Jaya, Makassar 90245

Monday, January 01, 2007

Katanya Manusia Bisa Dibagi Dua

Katanya manusia bisa dibagi dua.
Manusia yang tidak untung dan manusia yang untung.
Manusia yang tidak dicintai dan manusia yang dicintai.
Manusia yang tidak diperhatikan dan manusia yang selalu diperhatikan.

Sampai sejauh manakah perbedaan kedua manusia sebagai manusia?
Apakah perbedaannya sejauh dengan hitam dan putih?
Apakah perbedaannya sejauh dengan bumi dan langit?
Apakah perbedaannya sejauh dengan budak dan raja?

Manusia yang tidak untung sring cemburuh sama manusia yang untung.
Tetapi manusia yang untung tidak pernah memikir tentang manusia yang tidak untung.

Jumlah penduduk Indonesia 200 juta lebih.
Ada 200 juta lebih macam kehidupan manusia.

Manusia tidak bisa hidup sendiri.
Mengapa kita tidak berimajinasi mengenai manusia yang lain tanpa generalisasi?

Kekurangan imajinasi.
Inilah membagikan manusia jadi dua secara fiktif.
Inilah selalu mengedepankan prasangka dan menhambat komunikasi satu sama lain.

Kita sama-sama manusia.
Saling berimajinasilah sesama manusia sekaligus perbedaan individu masing-masing.


Makassar, 31 Desember 2006