Sunday, January 21, 2007

Kehormatan kepada Alam dan Ussul

Siang ini saya ketemu seorang teman saya yang melakakukan berbagai kegiatan untuk melestarikan budaya lokal Mandar. Ceritanya menarik sekali, terutama mengenai kehormatan kepada alam oleh nelayan di Sulawesi. Mengapa? Karena perilakunya sangat mirip dengan perilaku orang Jepang yang mengelola sumber daya alam.

Di wilayah Mandar, ikan terbang atau tuin-tuin yang bertelor disebut Mara'dia, artinhya raja. Nelayan menganggap tuin-tuin sewaktu itu dianggap raja dan merasa seolah-olah bertemu dengan raja. Ini terlihat rasa syukur, terima kasih, dan kehormatan kepada tuin-tuin yang akan meberikan rejeki kepada para nelayan. Sebelum mulai menangkap tuin-tuin, ada upacara khusus untuk menghormatinya.

Di Jepang juga sangat mirip. Umumnya nelayan Jepang minta pamit kepada dewa laut untuk menangkap ikan dengan upacara khusus yang sederhana. Di sini juga terlihat kehormatan mereka terhadap sumber daya laut.

Pembuat kapal kayu di Mandar mempunyai keputusan yang dipercayai membawa keuntungan. Misalnya, kayu untuk kapal harus dibabat waktu bulan pernama, anging kencang, dan pada waktu pagi. Mengapa? Semuanya ada kaitan kepercayaan atau ussul dalam bahasa Mandar. Bulan pernama diartikan rezekinya penuh. Angin kencang dianggap terkait dengan kecepatan cepat kapal yang akan dihasilokan. Mengapa harus pagi? Karena matahari yang naik diartikan rezekinya naik juga. Mereka percaya ada keuntungan jika bertemu ibu hamil karena akan mendapat rezeki. Sedangkan, nelayan Mandar tidak pergi ke laut pada hari yang bertemu orang yang menangis, karena mereka menganggap ini hari yang tidak baik.

Ussul ini hampur sama dengan Engi (縁起 dengan huruf Kanji) di dalam bahasa Jepang. Meskipun tidak ada hubungan logis dan teoritik, orang Jepang suka mengaitkan hal-hal yang tertentu dengan keuntungan atau ketidakuntungan. Ada yang sama secara nasional, ada juga yang berbeda-beda di komunitas lokal masing-masing. Misalnya, orang Jepang makan Katsu (makanan daging goreng tepung) sebelum pertandingan atau ujian masuk karena Katsu di dalam bahasa Jepang berarti menang.

Ilmu pengetahuan modern berkembang untuk mengatasi dan mengelola masalah sumber daya alam dan berbagai fenomena yang sulit diperjelaskan secara logis. Namun, masyarakat yang menhadapi alam sehari-hari sudah merasa dekat dengan sumber daya alam. Ketakutan dan kehormatan terhadap alam terlihat oleh mereka dan itu wajar-wajar saja. Ilmu pengetahuan modern tidak memecahkan masalah kompeleks tetapi menciptakan kesombongan manusia terhadap alam.

Apakah cerita nelayan Mandar dan ussul hanya menjadi bahan ketawa dan harus dibuang saja? Justru kita sebaiknya belajar bukan apakah isinya logis atau tidak, tetapi melainkan bagaimana perilaku dan kemampuan komunikasi mereka terhadap alam yang tidak bisa dikelola seratus persen oleh manusia.

Saya merasa menjadi sangat dekat dengan dunia spiritual orang Mandar seperti diatas.

No comments: